Hello Guys, Wellcome Too My Blog...! Lets To Read
Tampilkan postingan dengan label Budaya Palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Palembang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2020

Suku Melayu Palembang

Suku Melayu Palembang


         Hello sobat, apa kabar jumpa lagi di website saya. Negara kita ini Indonesia terdiri dari beribu Pulau, beribu bahasa, beribu adat istiadat dan beribu Suku Bangsa. kali ini saya akan membahasa Suku Palembang yang di kenal dengan Suku Melayu Palembang. yuk simak guys..

          Suku Melayu Palembang atau dikenal dengan Suku Palembang adalah salah satu suku Melayu yang terleatk di wilayah palembang dan sekitarnya. Suku Palembang juga merupakan salah satu kelompok etnis terdekat dari Suku KOmering. Suku Palembang di Palembang semakin lama semakin berkurang, tetapi di Tepian Sungai Musi masih banyak di temui suku palembang. Suku Palembang bahasanya mirip dengan bahasa Melayu Jambi dengan Suku Melayu Bengkulu yang kata-katanya berakhiran dengan kata O. 

         Suku Melayu Palembang umumnya bermata pencaharian sebagai petani. suku palembang juga tidak mendiami wilayah kota palembang saja, tetapi juga mendiami wilayah Kabupaten Ogan Ilir (seperti Kecamatan Tanjung Raja, Keacamatan Pemulutan, dan Kecamatan Indralaya). dan wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (seperti Kecamatan Kota Kayuagung, dan kecamatan Jejawi). Kebanyakan keturunan suku palembang ini juga banyak menyebar di wilayah bengkulu, dan jambi. Suku Melayu Palembang banyak menganut Agama Islam, sisanya beragama Buddha. Tetapi maih ada juga yang beragama Animisme, mereka juga hidup secara berdampingan-dampingan dan damai.

Kebudayaan Suku Palembang


        Kalau berbicara kota dengan pendapatan perkapita paling tinggi di indoneia, maka emua akan tertuju pada kota Palembang. Kota Palembang merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Selatan sekligus ibu kotanya lokasinya di tepi Sungai Musi. Dari 1,2 juta penduduk kota palembang, 40-50% adalah suku palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok, yaitu Wong Jeroo dan Wong Jao. Wong Jeroo merupakan keturunan bangawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan zaman dulu yang terpusat di palembang. sementara Wong Jao adalah rakyat biasa. Beberapa kalangan berpendapat bahwa suku palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa arab, Tionghoa, Suku jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di indonesia. banyak orang palemabang menjadi pegawai pemerintahan. Namun ada pula yang berkerja sebagai pedagang di pasar, buruh, nelayan, guru, atau sebagai pengrajin kerajina tangan. Luasnya ladang minyak di palembang menjadi kekayaan tersendiri kota palembang. Tradisi yang telah mengakar dalam budaya suku oalembang dan telah dijalankan selama beberapa abad sebagai pedagang, ilah sebagian kecil pedagang menjajakan dagangannya di atas permukaan air sungai musi dengan menggunakan perahu. Selain itu menjadi pedagang, orang palembang juga banyak yang berhasil menduduki sektor penting di poemerintahan Sumatera Selatan, dan juga tidak sedikit yang berhasil di perantaun dalam segala bidang, termasuk menjadi pejabat pemerintahan Indonesia dan beberapa sukses menjadi artis, sedangkan yang lain juga banyak di sektor swasta dan lain-lain. Banyak orang palembang yang masih tinggal di rumah yang didirikan di atas air. Rumah Limas menjadi model arsitektur rumah khas palembang yang kebanyakan didirikan diatas panggung diatas air untuk melindungi dari banjir. 


        suami atau ayah berfungsi sebagai pelindung rumah tangga dengan tugas pokok mencari nafkab dalam sistem kekeluargaan suku palembang. Sedangkan istri bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keharmonisan rumah tangga. Keberhasilan sorang istri ditrntukan oleh ungkapan para suami yang berkata "rumah tanggaku adalah surgaku". Sebuah keluarga lebih mengharapkan anak laki-laki dari pada anak perempuan. Para kakek-kakek dari kedua belah pihak menganggap cuci lelaki sebagai jaminan dan bakal negeri (memperkuat kekuatan mereka) dan negakke jurai (jaminan sebagai penerus garis keturunan mereka).


  Islam menjadi agama yang dianut sebagaimana besar orang palembang. Sondok Piyogo atau dalam bahasa indonesia berarti "adat dipangku, syari'at dijunjung" merupakan semboyan yang dipegang teguh oleh suku Palembang. Semboyan tersebut bermakna bahwa meskipun mereka sudah mengecap pendidikan tinggi, mereka tetap mempertahankan adat kebiasaan suku palembang.


         Lapangan pekerjaan merupakan masalah sosial suku palembang. Karena pengangguran menjadi masalah bagi orang palembang. Orang palembang dikenal sebagai orang yang sulit atau bahkan tidak mau melakukan pekerjaan kasar. Moderisasi merupakan momok bagi suku palembang di mana kebudayaan mereka akan mengalami perubahan hingga kemerosotan. Dalam kesehariannya, suku palembang berbicara dalam bahasa palembang. Bahasa palembang sendiri merupakan bagian agak varian dari bahasa melayu atau sering disebu sebagai Melayu Palembang. Bahasa palembang menggunakan dialek "O" pada akhir setiap kata. Inilah yang membedakan bahasa melayu riau dan melayu malaysia dengan bahasa melayu palembang. Adapun dialek bahasa melayu palembangini memiliki dua dialrk bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-sari.


Created by: Tantri Mariska

Kamis, 30 Januari 2020

Rumah Rakit Palembang

Rumah Rakit Palembang.



  • Lokasi    : Di sepanjang perairan sungai Musi

    • Sejarah dan keunikan    :
      • Rumah yang mengapung di atas sungai Musi
      • Rumah tradisional terbuat dari kayu dan bamboo dengan atap kajang(nipah) sirap sekarang menggunakan atap seng atau bahan ringan

      SEKILAS INFO OBJEK WISATA RUMAH RAKIT PALEMBANG
      Palembang pernah dijuluki Venesia dari Timur. Sebab, Palembang memiliki banyak sungai. Lalu lintas perahu di sungainya pun ramai. Selain itu, dulu, banyak orang di Palembang tinggal di rumah rakit.

      Rumah Apung

      Rumah rakit adalah rumah yang dibangun di atas rakit. Rumah ini mengapung di tepi Sungai Musi. Agar tidak hanyut terbawa arus, rumah diikat pada serdang (penambat). Satu rumah rakit, rata-rata perlu 6 buah serdang. Rumah rakit sudah ada sejak zaman kesultanan Palembang. Dulu, yang tinggal di rumah rakit adalah orang asing. Sebab, saat itu, orang asing tidak boleh membangun rumah di darat. padahal, banyak orang asing hidup di Palembang pada saat itu. Terbayang, kan, betapa ramainya Sungai Musi pada masa lalu.

      Unik, tetapi Mahal

      Rumah rakit dibangun dari kayu. Agar mengapung, di bawahnya ditopang lanting. Lanting adalah kumpulan batang bamboo yang diikat menjadi satu. Satu lanting terdiri dari 100 bambu. Untuk mengapungka rumah berukuran 9x12 m, diperlukan 7 lanting. Padahal, setiap tahun, bamboo-bambu ini harus diganti dengan yang baru. Harga 1 lanting sekitar Rp. 3.500.000,00. Harga 7 lanting berarti Rp. 24.500.000,00. Itu baru bambunya saja, belum bagian rumah yang lainnya. Rumah rakit memang unik. Sayang, biaya perawatannya sangat mahal.

      Kian Punah

      Rumah rakit masih dapat kita lihat di Sungai Musi hari ini. namun, jumlahnya tinggal sedikit. Banyak orang memilih membangun rumah di darat, karena lebih murah. Daerah Sungai Musi yang masih terdapat rumah rakit misalnya Kertapati. Di Kertapati, kita masih dapat jumpai rumah tinggal, took kelontong, bengkel kapal, dan pom bensin di atas rakit.
      Rumah rakit merupakan salah satu jejak sejarah Kota Palembang. Sayang, jejak sejarah itu kini kian menghilang.
    Created by: Tantri Mariska
    Sumber: http://www.palembang-tourism.com/destinasi-356-rumah-rakit-kota-palembang.html#

    Songket Palembang

    Songket Palembang

    Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

    Songket Palembang yang dikenakan pada baju wanita Palembang yang disebut Aesan Gede.
    Songket Palembang adalah salah satu karya budaya dari Sumatra Selatan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2013. Karya budaya ini masuk ke dalam domain Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional dengan nomor pencatatan 201300009. Songket Palembang tidak hanya sekadar kain pelindung tubuh yang estetis namun memiliki makna adiluhung yaitu kemakmuran, kejayaan, dan keberanian.

    Sejarah

    Keberadaan Songket Palembang telah dikenal sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Bukti songket telah ada sejak masa kejayaan Sriwijaya dapat dilihat dalam arca di kompleks percandian Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Pada masa itu, pekerjaan membuat songket merupakan suatu usaha sambilan bagi penduduk asli Palembang. Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). Dalam sejarahnya, orang yang berhak dan pantas memakai songket pada waktu itu adalah raja atau sultan dan kerabat keraton.[2]
    Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat Palembang, awal mula kain songket berasal dari pedagang Cina yang membawa sutra, pedagang India dan timur tengah membawa emas sehingga terciptalah kain songket yang berlapis emas di tangan penduduk asli Palembang. Keberadaan tradisi kain songket di Indonesia juga kerap dikaitkan dengan masa kemakmuran dan kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang pada abad ke-7- ke 13.

    Ragam Songket Palembang

    Songket Palembang dikenal dengan berbagai jenis dan fungsi yang ditampilkan dalam ragam motif dan ragam penggunaan benang. Motif yang tergambar dalam kain songket memiliki makna kehidupan dari masyarakat Palembang. Adapun ragam dan jenis Songket Palembang antara lain:[3]
    1. Songket Lepus. Songket ini dikenal sebagai songket pertama yang ada di Palembang. Makna harfiah dari lepus ialah menutupi sehingga Songket Lepus berarti kain songket yang tertutupi oleh anyaman benang emas. Hampir seluruh kain Songket Lepus tertutupi oleh benang emas. Songket Lepus dibagi menjadi tiga, dasar pembedaan ini bergantung pada motif dan benang yang digunakan: Lepus Berekam, Lepus Berantai, dan Lepus Penuh.
    2. Songket Tabur. Sesuai dengan namannya, songket ini dikenal dengan motif tabur yang memiliki ciri bertaburan, menyebar, dan motif dengan bentuk kecil-kecil seperti bunga dan bintang. Dikena tiga jenis yang tergolong dalam songket tabur yaitu: Songket Tawur Lintang, Songket Tawur Nampan Perak, dan Songket Tawur Tampak Magis.
    3. Songket Bunga. Terdapat dua jenis songket bunga yaitu Songket Bunga Emas dan Songket Bunga Pacik. Kedua jenis songket ini dibedakan atas penggunaan jenis benang. Songket Bunga Emas banyak digunakan oleh penduduk berketurunan Tionghoa sedangkan Songket Bunga Pacik dibuat menggunakan benang kapas putih yang banyak digunakan oleh penduduk berketurunan Arab.
    4. Songket Limar. Songket ini dikenal dengan jenis songket warna-warni; merujuk pada kata limar yang memiliki makna etimologis warna-warni. Untuk menghasilkan benang yang berwarna-warni, harus dilakukan pencelupan. Motif songket ini juga biasanya digabungkan dengan benang emas.
    5. Songket Tretes. Songket ini hanya memiliki motif di bagian ujung-ujung kain sedangkan pada bagian tengah dibiarkan kosong tanpa motif. Ada juga kreasi Songket Tretes yang mengisi area kosong ditengah kai dengan sejenis motif tabur.
    6. Songket Rumpak. Songket ini merupakan bagian dari pakaian pengantin laki-laki Palembang. Motif Songket Rumpak ini hampir sama dengan Songket Tretes, akan tetapi kain yang digunakan sudah memilik dasar motif berbentuk kotak-kotak seperti kain sarung.

    Teknik Pembuatan

    Songket berasal dari istilah sungkit yang berarti “mengait” atau “mencungkil" yang secara langsung merepresentasikan metode pembuatannya yaitu:[4]
    1. Mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun
    2. Menyelipkan benang emas
    3. Menenun
    4. Penyempurnaan

    Created By: Tantri Mariska

    Rabu, 29 Januari 2020

    Warisan Budaya Palembang

    Rumah Limas Haji Aziz, Warisan Budaya di Kota Palembang.



       Hey sobat, disetiap daerah sudah pasti ada peninggalan budaya yang harus kita jaga ya. Nahh di postingan saya kali ini saya ingin berbagi informasi tentang rumah adat dari Sumatra Selatan, yaitu Rumah Linmas. Yuk kita simak Rumah Linmas Haji Aziz, yang katanya budaya di Kota Palembang.

        Dari luar tampilan rumah limas itu begitu megah. Rumah adat khas Sumatera Selatan ini juga tampak indah dengan beragam ukiran dan warna dominan merah dan emas yang begitu menarik.

       Rumah limas ini terletak di Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Sumatera Selatan, milik seorang warga bernama Abdul Aziz Hamid atau kerap disapa Haji Aziz.

      Rumah limas milik Haji Aziz ini tampak sangat terawat. Lingkungan sekitar rumah pun tapak bersih. Memasuki ruangan pertama rumah Haji Aziz, rasanya sangat sejuk. Tak ada aroma pengap layaknya rumah adat berusia ratusan tahun.

        "Saya sengaja lapisi lantai rumah ini dengan beton. Selain supaya kuat, beton juga bisa menyerap dinginnya AC yang terpasang. Jadi udara tetap sejuk dan pengunjung nyaman berada di sini," ujar Haji Aziz saat ditemui KompasTravel bersama tim Heritage Tour Archipelago Internasional baru-baru ini.

      Di dalam rumah, kami melihat berbagai interior khas rumah limas tertata sangat rapi. Mulai dari ruangan depan, kamar, ruang makan, semuanya menggambarkan rumah limas tempo dulu yang masih terjaga keindahannya.

       Aziz mengatakan, sekitar 50 persen interior rumah limas ini merupakan barang lama yang sengaja dikumpulkan dan dirawat. "Saya ini dulunya adalah tukang mebel. Sekitar 50 persen interior rumah ini adalah barang ama yang saya rawat. Kemudian sisanya terbuat dari karu yang usianya di atas 100 tahun," terang Aziz. Menurut Aziz, rumah ini baru saja dibuka untuk umum sekitar setahun yang lalu. Pada saat mulai membangun rumah ini, Aziz mengaku tak terbayang akan menjadikan rumahnya sebagai salah satu destinasi wisata ikonik di Kota Palembang. "Tadinya enggak begitu, enggak terpikir untuk jadi tempat wisata begitu. Tapi dasarnya kan saya penarikan mebel dulu sekitar tahun 1981 di Jepara, Jawa Tengah. Kemudian sekitar 1989 saya mulai bangun, kumpulkan barang-barang lama," tuturnya.

     Aziz menambahkan, upayanya mengumpulkan barang-barang antik khas Sumatera Selatan ini Ia lakukan atas dasar keperihatinannya melihat banyaknya pewaris rumah limas sekitar yang tak merawat warisan budaya dari pendahulunya, namun justru menjualnya demi uang.


        Saat mulai mengumpulkan barang-barang antik tersebut Aziz merasa mendapatkan banyak kemudahan. "Jadi ada saja yang memberikan informasi dan menjual barang antik, dan dananya pas kebetulan ada saja. Saya yakin ini ada campur tangan yang di atas agar saya merawat warisan busaya ini," sebutnya.

      Tak hanya membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan barang antik, Aziz juga membutuhkan waktu yang lama untuk melukis ornamen-ornamen di sejumlah bagian rumah limas ini.

      Adalah Raden Muhammad Latif, orang yang didapuk sebagai pelukis di rumah limas milik Aziz. "Dibutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk melukis di atas setiap interior rumah ini. Semuanya murni dikerjakan dengan tangan, tidak ada mesin dan sebagainya," tutur Aziz. Ia berharap, kelak anak cucunya mengerti pentingya melestarikan salah satu warisan budaya daerah ini dan terus merawat rumah limas agar tetap dikenal generasi yang akan datang.

    Created by: Tantri Mariska
    Sumber: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/travel/read/2019/01/29/171200727/rumah-limas-haji-aziz-warisan-budaya-di-kota-palembang

    Selasa, 28 Januari 2020

    Pakaian Adat Asean Gede

    Makna Budaya Aesan Gede Pakaian Adat Sumatera Selatan.


         Budaya merupakan sebuah sistem gagasan dan rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat). Budaya adalah simbol yang berarti hasil olahan pikir yang memungkinkan untuk mengkodekan atau membukakan kode dari sesuatu yang hadir di hadapan kita. Salah satu dari wujud budaya adalah benda – benda fisik yang berwujud konkret, misalnya bangunan, pakaian, kapal, piring, gelas, dan lain – lain.
       Pakaian adat tradisional dapat dikategorikan sebagai salah satu wujud dari budaya. Pakaian adat Sumatera Selatan dapat dikatakan sebagai simbol peradaban budaya masyarakat Sumatera Selatan. Filosofi hidup dan keselarasan terdapat dalam pakaian adat Sumatera Selatan. Hal tersebut dapat dilihat dari pilihan warna dan corak ditambah kelengkapannya menambah kesakralan pakaian adat yang merupakan identitas masyarakat Sumatera Selatan.
        Aesan Gede merupakan pakaian adat Sumatera Selatan yang sering dijumpai pada acara pernikahan, yaitu munggah. Menurut para ahli budaya telah disepakati bahwa arti dari Aesan adalah hiasan, sedangkan Gede yang berarti kebesaran. Jadi, Aesan Gede adalah pakaian kebesaran.

          Aesan Gede merupakan salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yang memperlihatkan keagungan, kemewahan, dan keanggunan. Busana ini didominasi oleh warna merah dengan benang emas, berasal dari tenunan kain songket berunsur gemerlap dan keemasan sesuai dengan citra Sriwijaya pada zaman dahulu yang dikenal masyarakat dunia sebagai Swarna Dipa atau Pulau Emas.
      Menurut Ali Hanafiah dalam Hikmawati, Eka (2017) Aesan Gede mendapat pengaruh dari kebudayaan luar atau asing, hal ini dipengaruhi oleh letak geografis Palembang yang terdapat pelabuhan besar tempat singgahnya para pedagang dari luar termasuk Jawa, Cina, dan Arab.
        Bentuk busana Aesan Gede pada pengantin wanita terbagi atas bagian kepala, badan, tangan, dan kaki. Pada bagian kepala terdiri dari Bungo Rampai, Gandik, Gelung Malang, Tebeng Malu, Kesuhan, Kelapo Standan. Selanjutnya pada bagian badan terdiri dari Teratai, Kalung Kebo Munggah, dan Songket. Pada bagian tangan terdiri dari : Gelang Kulit Bahu, Gelang Sempuru, Gelang Ulo Betapo, Gelang Gepeng, dan Cenela untuk bagian kaki (Shanie, Arsan, Sumaryanto Totok, Triyanto 2017).


        Bungo Rampai mempunyai bentuk seperti Bunga cempaka yang mempunyai tangkai dan terbuat dari emas. Bungo Rampaiberisi nilai – nilai religius yaitu manusia harus menutup aurat kepada lawan jenis yang bukan muhrim. Gandik mempunyai bentuk seperti ikat kepala yang terbuat dari kain beludru berwarna merah pada bagian atasnya dihiasi ornamen. Gandikmempunyai nilai berupa ketenangan hati dan fikiran. Tebeng Malu (pada laki – laki maupun perempuan) berbentuk bola – bola berwarna – warni yang dirangkai dan dipasang di samping telinga yang bermakna manusia harus menjaga pandangan (Shanie, Arsan, Sumaryanto, Totok, dan Triyanto, 2017).
         Menurut Hikmawati, Eka (2017) nilai yang terdapat pada Gelung Malang, Kesuhan,dan Kelapo Standan adalah sebagai berikut : Gelung Malang ialah rambut yang digelung yang memberi kesan kerapian membentuk garis horizontal yang melengkung dengan makna bahwa Perempuan Palembang ialah sosok yang anggun yang mengutamakan kerapian dan mempunyai rasa ketenangan dalam menghadapi sesuatu, Kesuhun pada pengantin perempuan memilik motif hias cen yang berarti sebagai jalan kelahiran, asal kehidupan, dan dianggap sebagai penghormatan dan penghargaan kepada wanita sebagai pusat kehidupan.
         Teratai adalah penutup dada dengan hiasan Bunga Teratai memiliki simbol baik laki – laki maupun perempuan harus mempunyai rasa kesabaran dan ketabahan hati dalam hal apapun, Songket yang sering digunakan pada adat pernikahan Palembang memiliki motif geometris abstrak murni yaitu perulangan garis zig – zag yang disebut motif tumpal memiliki simbol keramahan, ketertiban, dan saling menghormati pada masyarakat Palembang (Hikmawati, Eka 2017). Kebo Munggahmenurut Shanie, Arsan, Sumaryanto, Totok, dan Triyanto (2017) berbentuk kalung tiga susun dengan ornamen bentuk kepala kerbau memiliki fungsi estetis.
          Gelang Gepeng berbentuk bulat tipis dengan hiasan bunga dan tumbuhan, Gelang Sempuru berbentuk bulat pipih dan terbuat dari lapisan emas atau kuningan, dan Gelang Ulo Betapo berbentuk bulat dengan ornamen kepala ular di sekeliling gelang baik pada laki – laki maupun perempuan memiliki bentuk yang sama dan mengandung nilai sosial berupa rasa persatuan, saling menguatkan, dan menjaga kerukunan (Shanie, Arsan, Sumaryanto, Totok, dan Triyanto, 2017).





         Canela merupakan alas kaki yang berbentuk seperti trompa atau slop. Perbedaan Cenela laki – laki dan perempuan hanya terdapat pada ukuran saja. Cenela memiliki simbol bahwa dalam melangkah di kehidupan harus mempunyai pelindung diri yaitu agama (Hikmawati, Eka 2017).


        Selanjutnya, bentuk busana pada pengantin pria terdiri pada bagian, yaitu : Kesuhun dan Tebeng Malu. Pada bagian badan terdiri dari Kalung Kebo Munggahdan Slempang Sawit. Bagian tangan terdiri dari : Gelang Kulit Bahu, Gelang Sempuru, Gelang Gepeng, dan Gelang Ulo Betapo. Bagian kaki pengantin pria menggunakan Celano Sutra dan Cenela (Shanie, Arsan, Sumaryanto Totok, Triyanto 2017).


        Kesuhun pengantin laki – laki dan Selempang Sawit menurut Hikmawati, Eka 2017 adalah sebagai berikut : Kesuhan pangantin laki – laki terdapat dua motif, yaitu : motif hias cemen dan motif hias bunga. Motif hias cemen ini simbol bahwa seorang laki – laki harus mempunyai sifat berani. Seorang laki – laki mempunyati tugas pokok melindungi keluarga dan masyarakat. Motif kedua adalah motif hias bunga (Bunga Mawar). Motif Bunga Mawar merupakan lambing kesucian dan keagungan. Selempang Sawit merupakan selempang yang diselempangkan di bahu, baik laki – laki maupun perempuan. Ini mempunyai simbol bahwa laki – laki dan perempuan harus sejajar, tidak ada yang di atas dan tidak ada yang merasa di bawah (Hikawati, Eka 2017)
         Celano Sutra yaitu celana berbahan sutra yang mempunyai motif ukel memiliki simbol berupa sifat lemah lembut (Shanie, Arsan, Sumaryanto Totok, Triyanto 2017). Adapun menurut Hikmawati, Eka (2017) pada bagian bawah celana terdapat bordiran yang berbentuk Bunga yang memiliki tangkai yang panjang atau menjalar yang disebut motif sulur. Motif ini sebagai simbol kebahagian dan kemujuran serta melambangkan harapan masa depan yang lebih baik.

    Created by: Tantri Mariska
    Sumber: https://backpackerjakarta.com/makna-budaya-aesan-gede-pakaian-adat-sumatera-selatan/

    Julukan Kota Palembang

    Julukan Kota Palembang
    PALEMBANG CINDO NIAN.


      Heyy sobatku, kali ini aku ingin membahas julukan-julukan kota palembang. Tak asing lagikan bagi kita jika mengenal kata-kata Kota Pempek, karena kuliner Ciri Khas nya Kota palembang yaitu Pempek guys.

       Selain itu juga ternyata palembag memiliki nama julukan-julukan yang lain lohh. Mari kita bahas


    Kota Tertua Di Indonesia



       Palembang merupakan kota tertua di Indonesia. Hal ini tercatat di dalam sebuah prasasti bernama Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti itu menceritakan mengenai penemuan sebuah tempat pada tahun 688 Masehi.

    Kota Pempek


         Pempek adalah kuliner khas dari kota palembang. Pempek terbuat dari daging ikan yang digiling dan di beri tepung kanji, lalu di masak dan di santap dengan kuah cuko. Nahh jadi sobat kalau ke palembang boleh dehh icip-icip pempeknya.

      Pempek ternyata masuk ke palembang karena dibawa oleh perantau dari Tiongkok sekitar abad ke 16. Nahh oleh sebab itulah kota palembang akrab di kenal dengan sebutan kota pempek.

    Palembang Sebagai Wilayah Maritim

      Banyak juga yang mengenal Palembang sebagai wilayah maritim, sebab daerah Palembang terletak ditepi sungai terpanjang. Di kota palembang, Sungai Musi. 

          Masyarakat Palembang juga sudah terbiasa dengan teknologi pembuatan perahu sejak lama. Tepatnya sejak kerajaan Sriwijaya di masa lampau. Dan juga kerajaan Sriwijaya juga terkenal akan sistem perdagangannya.

          Kerajaan ini memperluas pasar ke beberapa daerah lain disekitarnya, seperti selat sunda, laut Cina Selatan, dan sebagainya.

    Bumi Sriwijaya



        Nama Palembang tentu tak lepas dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Buddha terbesar pada zamannya sekaligus kerajaan yang memiliki angkatan laut terkuat. Kerajaan Sriwijaya menguasai hubungan dagang di jalur-jalur perdaganva  laut. Maka itu, kerajaan ini memperkuat armada laut mereka untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Maka dari itu Palembang sering di sebut juga Bumi Sriwijaya.

    Nah.. itulah julukan-julukan kota palembang guys..

    Created by: Tantri Mariska
    Sumber: https://bobo.grid.id/amp/08902784/kota-palembang-memiliki-beberapa-nama-julukan-lain-apa-saja-ya?page=all

    Senin, 27 Januari 2020

    Tari Gending Sriwijaya

    Tari Gending Sriwijaya


         Hey sobat, kali ini saya juga ingin berbagi informasi tentang tari ciri khas dari kota palembang atau di bumi Sriwijaya ini. Yuk kita kupas apa itu Gending Sriwijaya.
          Tari Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatra Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara. Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia.

          Tari Gending Sriwijaya ini digelar untuk menyambut para tamu istimewa yang bekunjung ke daerah tersebut, seperti kepala negara Republik Indonesia, menteri kabinet, kepala negara / pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang dianggap setara dengan itu.

          Untuk menyambut para tamu agung itu digelar suatu tarian tradisional yang salah satunya adalah Gending Sriwijaya, tarian ini berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di Kota Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu.

          Tarian Gending Sriwijaya digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal kadang-kadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya.
    Nahh disini juga saya mengajak anak muda generasi penerus bangsa, yuk kita lestarikan budaya-budaya peninggalan kerajaan dan serta adat istiadatnya.

    Created by: Tantri Mariska
    Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gending_Sriwijaya